Terima Kasih Abu Atas Tegurannya
Pemandangan di depan rumah kami saat hujan abu terjadi Tiga hari ini bukanlah hari-hari yang nyaman untuk dilalui. Harus berjibaku dengan abu bukanlah hal yang kami (warga Yogyakarta) harapkan. Kiriman kilat abu vullkanik dari Gunung Kelud yang meletus pada Kamis malam (13/2) membuat aktivitas di Yogyakarta menjadi cukup carut marut saat Jumat pagi (14/2) Hari Jumat itu sangat sulit menemukan warung makan. Kalau KFC sih buka, tapi apa rela?? Entah kenapa harus berpikir berkali-kali untuk makan di sana. Belum lagi harus menunaikan kewajiban mendistribusikan buletin Jumat ke masjid-masjid yang tentu saja mengharuskan saya keluar rumah. Jika diminta untuk membandingkan kondisi abu di Jogja saat ini dengan suasana Jogja saat letusan Merapi tahun 2010. Rasanya masih lebih baik saat tahun 2010. Namun seharusnya tidak ada alasan bagi kami untuk mengeluh, toh kami hanya menerima abu dan tidak ada alasan yang memaksa kami untuk mengungsi ke tempat lain. Lain halnya dengan...