
Sejak zaman dahulu manusia sudah biasa mengabadikan peristiwa-peristiwa yang mereka alami melalui media visual. Lihat saja lukisan di gua, relief-relief di candi, dan lukisan yang dilahirkan dari berbagai peradaban yang ada di dunia. Lain dulu lain sekarang. Saat ini tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk mengabadikan suatu peristiwa, bahkan jauh lebih cepat dan hasilnya menyerupai kenyataan. Maka berbahagialah kita karena
Semakin maju zaman ukuran kamera semakin kecil, bisa kita lihat dari kamera digital yang muat dimasukkan ke dalam saku. Namun, beberapa tahun belakangan ini kamera dengan ukuran yang lebih besar malah makin digandrungi. Kamera dengan badan berwarna hitam dengan lensa yang bisa diganti-ganti saat ini semakin diminati oleh banyak kalangan. Kamera inilah yang dinamakan kamera DSLR (Digital Single-Lens Reflex).
Sedikit Cerita tentang Kamera
Dalam blognya Ramilury menuliskan bagaimana perkembangan kamera dari masa ke masa. Dulu telah ditemukan kamera yang dinamakan camera obscura. Camera obscura membutuhkan ruangan yang sangat besar, namun akhirnya bisa diperkecil menjadi seukuran radio atau televisi. Camera obscura berasal dari bahasa latin, camera yang artinya kamar, sedangkan obscura berarti gelap. Dulu fungsinya adalah sebagai alat bagi seniman untuk melihat proyeksi saat akan melukis.
Mahasiswa dari jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang ini juga menceritakan mengenai polemik yang terjadi antara peneliti dari Inggris dan Perancis mengenai siapa yang terlebih dahulu menemukan teknologi untuk menjadikan proyeksi dari camera obscura bisa terekam di atas plat/kertas yang diberi senyawa kimia yang diletakkan diatasnya. Padahal sebenarnya kedua peneliti ini menghasilkan teknologi yang berbeda, dari perseteruan ini lahirlah istilah photography. Istilah photography atau fotografi dikemukakan pertama kali oleh Sir John Herschell pada tahun 1839. Photography memiliki arti melukis/ menulis dengan cahaya. Kata ini diambil dari bahasa Yunani yaitu photos yang artinya cahaya dan graphos yang artinya menulis/melukis.
Sumber lain menyebutkan bahwa camera obscura merupakan penemuan dari saintis Islam Ibnu Al Haitham pada abad ke-10. Tahun 1888, George Eastman berhasil mengembangkan prinsip kerja camera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik dan berhasil menciptakan kamera kodak. Selanjutnya kamera mulai mengikuti teknologi yang berkembang bahkan hingga saat ini.
Kamera DSLR (Digital Single-Lens Reflex)
Sebelum terciptanya kamera DSLR, yang berkembang terlebih dahulu adalah kamera SLR (tanpa D). Om Wiki (wikipedia.org) menyebutkan bahwa kamera SLR atau kamera refleks lensa tunggal adalah kamera yang menggunakan sistem jajaran lensa jalur tunggal untuk melewatkan berkas cahaya menuju ke dua tempat, yaitu Focal Plane dan Viewfinder, sehingga memungkinkan fotografer untuk dapat melihat objek melalui kamera yang sama persis seperti hasil fotonya.
Pada kamera non-SLR akan berbeda, obyek yang terlihat di viewfinder bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film (berkas cahaya yang lewat focal plane), karena kamera jenis ini menggunakan jajaran lensa ganda, 1 untuk melewatkan berkas cahaya ke Viewfinder, dan jajaran lensa yang lain untuk melewatkan berkas cahaya ke Focal Plane.
Kamera SLR membuat kesalahan paralaks saat memotret obyek bisa dihindari. Kesalahan paralaks adalah keadaan dimana fotografer tidak melihat secara akurat indikasi keberadaan subjek melalui lensa sehingga ada bagian yang hilang ketika foto dicetak. Kesalahan akan nampak jelas untuk pengambilan foto close-up.
Sebelumnya kamera SLR menggunakan film untuk medium penangkap gambar. Perkembangan teknologi membuat kamera SLR tidak perlu lagi menggunakan film untuk menghasilkan sebuah foto. Inilah yang dinamakan dengan kamera DSLR, tambahan D merupakan kepanjangan dari digital. Pengganti film pada kamera DSLR adalah menggunakan CCD (charge-coupled device ) atau CMOS (Complementary metal–oxide–semiconductor ).
Fenomena Kamera DSLR yang Menjamur di Indonesia

Kelebihan Kamera DSLR
Menurut salah satu pengguna kamera DSLR, Alan dari Fakultas Kehutanan UGM mengatakan bahwa kamera DSLR mempunyai kelebihan dalam hal pengaturan cahaya yang masuk ke dalam kamera dan juga bisa mengatur pewarnaan.
Kelebihan lainnya seperti disebutkan oleh Danu—mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM yang sekaligus fotografer di Abankirenk Creative—adalah resolusi gambar yang besar, sensor cahaya yang lebih baik dari kamera biasa, dan bisa sesuka hati dalam setting (pengaturan) pengambilan gambar.
Lain halnya dengan Ryan (mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM), Dia mengatakan bahwa badan kamera yang kokoh dapat membuat pegangan menjadi lebih nyaman dan tahan dari getaran. Selain itu dia juga membandingkan kamera DSLR dengan kamera kompak, di mana hasil gambarnya lebih jernih dan juga memiliki fungsi-fungsi yang lebih banyak dibandingkan kamera kompak sehingga bisa lebih kreatif dalam mengambil gambar.
Kekurangan kamera DSLR yang dirasakan oleh Alan dan Danu antara lain karena ukurannya yang cukup besar dan juga butuh waktu dalam menguasai skill dalam pengambilan gambar. Namun nampaknya dengan kelebihan-kelebihan yang ada kekurangan-kekurangan ini bisa tertutupi, setidaknya bagi para pencinta kamera DSLR.
Mau membeli kamera DSLR?
Sudah tahu kamera DSLR kan? Pasti ada di antara pembaca yang ingin memilikinya. Tentu saja untuk hal yang satu ini pembaca membutuhkan uang. Harga kamera DSLR memang semakin turun, namun masih lebih tinggi daripada harga kamera kompak.
Ryan mengungkapkan untuk masalah anggaran yang harus dikeluarkan untuk membeli kamera DSLR akan bergantung pada isi kantong (kondisi keuangan) kita.Termasuk juga untuk urusan aksesorisnya. Dia juga menyebutkan bahwa harga asesoris sekarang sudah semakin murah dan kembali lagi bergantung pada kondisi keuangan kita.
Danu sudah mengeluarkan anggaran hingga 24 juta untuk membeli lensa, trigger, flash dan perlengkapan lainnya untuk mendukung hasil gambar. Sedangkan untuk badan kameranya sendiri harganya 8 jutaan.
Alan sendiri berpendapat budget juga bergantung dengan jenis kamera dan asesorisnya, rata-rata kamera DSLR baru harganya 5 jutaan rupiah dan aksesoris mulai Rp 10.000 sampai jutaan rupiah.
Menurut blog yang penulis baca dalam membeli kamera memang butuh pertimbangan ekstra. Karena membeli kamera DSLR tidak sekedar membeli badan kamera tetapi juga membeli sistem. Sistem yang dimaksud terdiri dari kamera dan aksesorisnya, sehingga jika ingin pindah sistem membutuhkan budget yang tidak kecil. Selengkapnya bisa dibaca di sini
Memproduksi Karya Seni dari Obyek Fotografi

Ryan juga hampir sama dengan Alan, yaitu mengambil gambar yang ada makna tersirat di dalamnya. Jadi tidak sekedar bagus atau tidak hasil gambar yang diperoleh. Ryan juga menegaskan obyek foto bergantung keinginan pengguna kamera. “Asal jangan obyek masalah aja..hehe,”canda Ryan.
Lain halnya dengan Danu yang sudah menggeluti fotografi sebagai profesi (tentunya tidak melupakan tugasnya sebagai mahasiswa), obyek foto yang diambil adalah manusia (people). Danu sudah biasa menangani pemotretan model, pre wedding, grup, dan juga foto studio. Dulunya ia belajar dengan mengambil gambar landscape (pemandangan).
Sedikit Pesan
Teknologi semakin berkembang dan berbagai produk-produk baru bermunculan di pasaran. Penulis berpesan agar bijaklah dalam menghadapi perkembangan teknologi, jangan sampai kemajuan teknologi membutakan moral kita. Seperti yang pernah penulis katakan sebelumnya teknologi itu seperti mata pisau.
Dont forget to read my post again ...