Monday, February 7, 2011

Art Performance at Wanagama

Keramaian yang tak biasa terdengar dari gedung serbaguna Hutan Pendidikan Wanagama, Gunung Kidul. Ada apa gerangan di sana?

Forestry Camping (FC) sudah menjadi agenda tahunan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Untuk FC 2011 berlangsung pada tanggal 31 Januari hingga 3 Februari 2011. FC memang sudah selesai, tetapi sayang rasanya jika kenangan saat FC tidak saya bagi kepada pembaca Cat-Rim. Salah satu rangkaian kegiatan FC yang paling berkesan adalah pentas seni yang dibawakan oleh seluruh peserta dan panitia FC. Mau tahu apa saja yang ditampilkan?

Pentas seni yang berlangsung malam hari pada tanggal 2 Februari diawali dengan menyanyikan lagu “Mars Rimbawan” . Lagu ini diiringi oleh instrumen gitar (Yona) dan keyboard (Righan) serta dinyanyikan dengan luapan semangat oleh para peserta FC 2011. Saya bangga masuk kehutanan karena sudah ada lagu mars-nya, rasa-rasanya saya belum pernah dengar ada Mars Akuntan atau Mars Politisi. Ayo rimbawan! Tetaplah bersemangat seperti saat kalian menyanyikan lagu ini.

Yona mengajak para peserta untuk menyanyikan MARS RIMBAWAN

(photo by Ryan Kurniawan)

Ingat novel “Laskar Pelangi”, karya fenomenal dari Andrea Hirata? Novel tersebut diangkat menjadi film layar lebar dan salah satu theme song nya yang berjudul “Laskar Pelangi” dibawakan oleh Nidji. Teman-teman Paduan Suara Kehutanan membawakan lagu tersebut di tengah-tengah kami, yang mengajak saya memvisualisasikan indahnya Belitong dan letupan-letupan spirit dari Ikal dan kawan-kawan.

Performance selanjutnya dibawakan oleh para Kelelawar dari MAPALA SILVAGAMA. Mereka berseragam kompak dan menyanyikan lagu andalan mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah pecinta alam sejati. Lagu-lagu yang mereka bawakan sudah cukup akrab di telinga, karena sering mereka nyanyikan bersama di kampus.

Para Kelelawar (Dito dkk) Silvagama

Para peserta pun nampaknya tidak mau melewatkan kesempatan ini dengan sia-sia. Setiap kelompok yang jumlahnya 18 kelompok ini berusaha memberikan penampilan terbaiknya di hadapan peserta-peserta lain. Penampilan mereka mengundang senyum, tawa, haru, teriakan, dan tepuk tangan yang tak henti-hentinya hingga tengah malam. Energi yang terkuras pada siang hari nampaknya tidak begitu terlihat dari kegembiraan di wajah mereka. Benarkah?

Kelompok pertama membawakan puisi yang cukup panjang dan dibawakan dengan penuh penghayatan oleh salah satu anggotanya. Tetapi anggota yang lainnya kurang terlibat, jadi rasanya masih kurang hidup. But that’s no problem.

Bagaimana pendapat anda tentang logat ngapak? Ngapak yang biasanya diidentikkan oleh media sebagai bahasa wong ndeso atau paling tidak orang kota yang memiliki profesi rendahan (pembantu dll), namun pada pentas seni ini logat ngapak dengan percaya diri dibawakan oleh sepasang MC dari sebuah kelompok. Pantaslah mereka dijuluki “Ngapak Jaya”. Saya sendiri sempat sibuk membayangkan jika suatu saat ibukota pindah ke Tegal dan nantinya logat yang populer adalah logat ngapak, maka dijamin kata ‘gue’ tidak dipakai lagi dan digantikan dengan kata ‘inyong’.

Pernah dengar lagu “Balonku”. Lagu yang cukup populer saat kita masih ingusan ini dikemas dengan baik oleh salah satu kelompok. Saya sempat bingung melihat 5 orang bersedekap seperti orang sedang sholat dan peserta yang lainnya menyanyikan lagu “Balonku”. Akhirnya saya tahu ketika lirik “Meletus Balon Hijau..DAAR”, salah satu peserta yang bersedekap tadi mengangkat tangan dan meliuk-liuk jatuh persis seperti balon yang meletus. Gelak tawa pun membahana di dalam gedung serbaguna itu. Tidak cukup satu, mereka menampilkan lagu nostalgia lain yaitu “Bintang Kecil” dan dibawakan dengan apik sekali. Khusus lagu ini ada konspirasi yang menyesatkan, masa ada orang yang ingin menari di dekat bintang?

Pernah lihat video klip “Hari Bersamanya” yang dibawakan oleh Sheila On 7? Pada even ini memang tidak ada Sheila On 7 dan video klipnya juga tidak diputar. Uniknya lagu ini disajikan seolah-olah kita sedang menyaksikan “ video klipnya”. Dalam penampilan tersebut, ada dua orang pria yang kelihatannya sangat bernafsu mengejar-ngejar seseorang yang kepalanya berkerudung (sayangnya kerudungnya dari sarung) yang mereka pikir pasti cantik. Ke manapun orang itu pergi selalu diikuti oleh dua orang yang nampaknya tidak punya kerjaan lain lagi. Salah seorang yang biasa dipanggil Arif menyuguhkan penampilan yang baik sekali sehingga penonton terpingkal-pingkal menyaksikan tingkahnya, termasuk saya. Begitupula sosok berkerudung misterius tadi yang nampak lincah memainkan perannya. Saat akhir penampilannya akhirnya terungkap sudah siapa sosok di balik kerudung itu, ternyata di balik kerudung itu adalah pria berjenggot. Terbirit-biritlah dua pria yang seperti orang kena pelet tadi. Tidak salah juri memilih penampilan mereka sebagai penampilan terbaik malam itu.

Saya sendiri bersama rekan kelompok 3 lainnya menjadi kelompok terakhir yang maju. Kami membawakan lagu “Lestari Alamku” yang diciptakan oleh Gombloh. Penampilan yang cukup buruk, karena banyak yang lupa liriknya. Syukurlah Aa’ Fauzi mampu menunjukkan performance terbaiknya dengan membahasakan reffnya seperti membaca puisi. Penampilannya yang ekspresif membuat penonton yang sudah dalam keadaan 5 Watt kembali semangat lagi. Memang tidak sesuai rencana, tapi tak apalah yang penting sudah berusaha. Benar kata Gunawan, sesuatu yang terlalu direncanakan biasanya malah gagal.

Kelompok-kelompok lain juga tak kalah seru. Ada yang menyanyikan lagu Ebiet G. Ade, teatrikal wanita jago bela diri lawan preman-preman, ada juga da’i kondang yang ceramah soal lingkungan, lagu yang dinyanyikan ala Team Lo. Saya tidak menyesal ikut FC tahun ini.

Pemandu dan panitia dosen pun ikut “mentas” dan yang menarik perhatian adalah ketika mereka menyanyikan lagu “Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu”. Para peserta ikut berdiri dan menyanyi bersama-sama. Seolah-olah semuanya tidak ingin kemesraan (baca:keakraban) ini segera berlalu. Cukup mengejutkan ketika salah satu peserta diangkat ke atas oleh tangan-tangan jahil persis seperti pentas musik. Maklum kesempatan seperti ini jarang sekali bisa ditemui.

Akhirnya acara ditutup dengan penyajian foto-foto yang berhasil “dijepret” selama FC 2011. Bermacam-macam ekspresi tertangkap oleh tim dokumentasi. Ada yang serius, tersenyum, sedang enak-enakan makan, tertidur saat materi, melamun, dan berbagai gaya aneh lainnya. Namun ada yang cukup disayangkan, foto kelompok saya tidak ada. Tapi tak apalah, mungkin tim dokumentasi terlupa, maklum fotonya banyak sekali.

Sejarah telah mencatat bahwa Hairi Cipta sudah mengikuti Forestry Camping 2011. Salah satu kewajiban sudah saya laksanakan. Memang sempat ada sedikit kekecewaan karena tahun lalu saya tidak bisa mengikuti FC 2010. Namun semuanya sudah terbayar, penyesalan itu kini sudah tidak membekas lagi. FC 2011 layaknya sebuah liburan yang membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang secara akademis lebih muda dari saya. Justru ini menjadi kesempatan berbagi banyak hal kepada mereka dan menghilangkan jurang-jurang kesenjangan di antara angkatan atas dan angkatan di bawahnya. Satu hal yang terkadang membuat saya jengkel adalah,” Mas kenapa gak ikut FC tahun lalu?”. Untunglah saya memaklumi bahwa kalian tidak salah menanyakan itu.

Salam Cat-Rim


Foto Yona pinjam dari jepretan Ryan Kurniawan

No comments:

Post a Comment