Periplus |
![]() |
Togamas |
Gramedia |
![]() |
Shopping (Taman Pintar) |
Periplus |
![]() |
Togamas |
Gramedia |
![]() |
Shopping (Taman Pintar) |
Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau yang terpisahkan oleh laut dan selat, nampaknya berpengaruh besar terhadap tradisi yang membudaya ada di daerah. Hal ini tidak hanya terjadi pada bahasa, cara berpakaian, arsitektur rumah, dan tradisi-tradisi lainnya, namun juga sangat kentara untuk masalah kuliner. Barangkali jika ada yang pernah lihat acara Wisata Kuliner-nya Bondan Winarno, ya seperti itulah gambaran keanekaragaman makanan yang ada di Indonesia. Seringkali bahan yang digunakan untuk mengolah makanan-makanan itu sama saja, hanya cara memasaknya saja yang tidak sama.
Labu, buah yang dihasilkan dari tanaman merambat ini dikenal baik di Indonesia sebagai salah satu bahan makanan. Buah labu memang memiliki rasa yang khas dan rasanya cukup manis. Ada keunikan tersendiri dari tiap-tiap daerah dalam menyantap buah ini, terutama di Jawa dan Kalimantan Timur. Jika saya bilang bahwa labu itu seharusnya dijadikan kolak, maka orang kalimantan akan keheranan. Sebaliknya jika saya bilang bahwa labu dimasak menjadi sayur, maka orang Jawa yang akan mengerutkan dahi. Aneh memang, namun ini fakta.
Sejujurnya saya lebih merasa afdhol jika labu disantap sebagai sayur. Dibuat menjadi sayur bening atau dicampur dengan santan (hasil perasan kelapa). Bahkan daun tanaman labu pun juga sering ditambahkan dalam sayur itu. Kalau yang lebih unik lagi, daunnya pun bisa dicampurkan untuk membuat telur dadar. Namun saya juga tidak menolak untuk makan kolak labu.
Sedangkan orang Jawa sepertinya cukup risih ketika melihat labu dijadikan sayur. Sejauh yang saya tahu di Jawa atau setidaknya orang Jawa yang tinggal di Kalimantan lebih doyan menyajikan labu dalam bentuk kolak. Alaminya labu memang manis, sehingga sangat cocok untuk dikolak.
Saya tidak bisa menyebutkan mana yang lebih baik, yang jelas keduanya sama-sama enak. Untuk masalah kuliner, memang tergantung lidah masing-masing orang. Ada lidah Jogja yang biasanya merasakan manis, sedangkan lidah Jawa Timur lebih sering merasakan pedas. Di Sumatera lain lagi, salah satunya adalah lidah Padang, kita bisa melihat ekspansinya di banyak daerah di Indonesia. Sajiannya biasanya berminyak dan bersantan.
Kekayaan kuliner menjadi nilai tambah tersendiri untuk Indonesia, bahkan bisa menunjang pariwisata. Semakin khas kuliner suatu daerah, maka tourist akan semakin menikmati. Wonosobo punya mi ongklok, Jogja punya gudeg, Cirebon punya nasi jamblang, Bali punya ayam betutu, di Padang ada rendang, Madiun dengan pecelnya, and many more. Ada baiknya sebelum berkunjung ke suatu daerah, kita mencari informasi mengenai daerah itu, termasuk makanannya. Tak perlu repot-repot, tinggal ketik saja di google.com.
(HR. Ahmad)
Rasa syukur yang tak terhingga, hingga detik ini kita masih bisa menjumpai bulan yang sungguh sangat spesial. Bulan yang memberikan kesempatan kepada kita untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya dan dimudahkan dalam urusan pengajuan proposal pengampunan atas dosa-dosa. Bulan yang membuat setiap Muslim yang “BERIMAN” berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan sebanyak mungkin mumpung pahala “dijual” semurah-murahnya, hanya satu kali setahun! Setidaknya musuh utama manusia, yaitu setan, sedang dibelenggu. Tak ada lagi alasan malas melakukan kebaikan karena godaan setan atau ada yang mau menggantikan tugas setan? Kalau masih ada rasa malas, jangan sungkan untuk mengakui bahwa itulah diri kita sebenarnya. Tetapi jangan khawatir, selalu ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Termasuk juga diri saya sendiri.
Beberapa hari bahkan satu hari sebelum Ramadhan saya belum merasakan semarak Ramadhan di kota yang dijuluki kota pendidikan ini. Hanya melihat masyarakat sibuk membersihkan rumah dan masjid. Membersihkan lumut-lumut yang menempel dan mengecat tembok yang sudah mulai kusam. Namun siapa sangka begitu memasuki Ramadhan, atmosfir seakan-akan berubah.
Sarapan menjadi lebih cepat, dini hari sekitar jam 2 hingga setengah 5 dini hari sudah ramai oleh umat muslim. Rasa kantuk pun dilawan, para ibu membangunkan suami dan anak-anaknya, teman membangunkan temannya, dan yang berjauhan menggunakan telepon untuk membangunkan orang-orang terkasih. Pengeras suara masjid meneriakkan “Sahur..sahur..sahur!” untuk memastikan agar tidak ada umat muslim tidak makan sahur. Sahur lah yang membedakan puasa Ramadhan dengan puasa umat agama lain. Saat pagi tiba banyak majelis-majelis ilmu yang rutin diadakan saat RAMADHAN ONLY. Bulan ini ternyata juga membangkitkan semangat umat Muslim untuk menambah ilmu keislaman.
Di siang hari, warung-warung makan yang sebelumnya terbuka lebar untuk siapa saja, kali ini menunjukkan toleransinya kepada orang yang sedang berpuasa, bahkan ada yang benar-benar tutup. Lantunan indah ayat-ayat Al Quran dapat didengar dari kamar-kamar mahasiswa. Hebatnya lagi, puasa bukan alasan untuk mengendurkan semangat. Apapun profesinya, semua masih tetap bersemangat meski harus menahan lapar. Namun saya juga tidak menutup mata melihat masih ada saja yang menyantap makanan, entah muslim apa bukan. Mereka adalah muslim atau non muslim, dua-duanya sama merugi. Jika mereka muslim, mereka rugi karena telah melakukan pelanggaran syariah (berdosa), puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban. Sedangkan jika mereka non muslim, ya mereka rugi juga karena belum menemukan agama yang benar.
Saat sore hari menjelang berbuka. Warna baru muncul lagi, sesuatu yang tidak kita temukan ketika bulan-bulan biasa. Mulai dari anak kecil hingga orang-orang tua berkontribusi dalam pesta kuliner dalam rangka mengisi perut-perut muslim yang seharian sudah kosong. Berbagai jajanan, minuman, dan hidangan dijual di tepi-tepi jalan raya. Warung makan juga sudah menyiapkan amunisi-amunisi untuk menyambut serdadu-serdadu yang seharian sudah bertarung dengan hawa nafsu. Manis, asam, asin, pedas, pilih yang mana yang kita inginkan. Tak sedikit juga orang-orang yang tidak sekedar kumpul-kumpul bersama teman-teman, mereka orang yang menunggu berbuka puasa sambil menambah ilmu dan wawasan dan keislaman di masjid-masjid.
Maghrib tiba, ada yang memilih membatalkan puasa di tempat-tempat keramaian, di rumah makan, atau di rumah bersama keluarga. Uniknya saat kita mau berhemat, masjid-masjid banyak yang mengadakan buka bersama. Di kampus pun, seperti Masjid Fakultas Kehutanan UGM misalnya, juga mengadakan buka bersama yang sebelumnya didahului dengan acara kajian. Saat kita mendapat sajian buka gratis, bukanlah menunjukkan kepelitan atau kerendahan kita (sedikit pembelaan penulis). Muslim mana yang tak senang ketika uang yang pernah diinfakkan olehnya ternyata digunakan untuk menyediakan makanan berbuka untuk orang-orang beriman? Keikhlasan menginfakkan uang itu akan diganjar dengan pahala yang amat besar.
Malam harinya syiar-syiar ke-Islaman terus berlanjut. Sholat tarawih berjamaah menunjukkan eksistensi umat muslim, sama seperti sholat jumat. Umat muslim akan tumpah ruah di masjid, apalagi saat malam pertama Ramadhan. Sebelumnya sudah diantisipasi oleh warga dengan memasang tenda dan tikar tambahan di luar masjid, untuk mengatasi membludaknya jamaah masjid. Banyak keunikan yang kita lihat saat sholat tarawih di setiap tempat. Rakaat yang tak mesti sama, gaya masing-masing imam, kultum di sela-sela isya dan tarawih, dan jamaah yang juga memiliki latar belakang berbeda-beda. Tanpa menutup mata agar semua umat muslim harus mencari referensi yang benar mengenai perkara ibadah. Setelah tarawih, lantunan ayat Al Quran terdengar dari pengeras suara di masjid-masjid, mengisi malam-malam penuh kemuliaan di bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran untuk pertama kali.
Evaluasi penting lainnya agar suasana seperti ini tidak hanya bertahan saat bulan Ramadhan saja, jangan biarkan masjid-masjid sepi lagi. Jika umat muslim ingin bangkit, kebangkitan itu tidak bisa tidak harus diusahakan oleh umat muslim itu sendiri.
Mari saudara-saudara semua, jangan sia-siakan Ramadhan kali ini. Jangan sampai kita jadi golongan orang yang merugi karena tidak berhasil mendapat predikat TAQWA. Belum tentu tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan bulan yang mulia lagi. Bahkan beberapa jam ke depan, belum tentu roh kita masih ada di dalam jasad ini. Kerahkan semangat untuk melakukan amalan spesial agar memperoleh kemenangan di hari yang fitri nanti.
Mohon maaf bila ada penyampaian yang salah, tak manusia yang bisa terbebas dari khilaf.
Wallahu’alam bis shawab