
Tidak
bisa dipungkiri bahwa sejak dahulu manusia memanfaatkan hutan untuk
dieksploitasi kayunya. Berbagai peradaban yang muncul tenggelam
menjadikan kayu sebagai sumber daya alam yang penting guna membangun
peradaban, seperti peradaban di Mesopotamia, Persia, dan Romawi. Manfaat
kayu yang beragam menjadikannya tetap penting hingga saat ini, bahkan
semakin banyak derivat-derivat produk yang berasal dari kayu. Dulunya
kayu hanya digunakan sebagai perkakas, sumber energi, transportasi
(misalnya kapal), ataupun untuk membangun rumah. Bandingkan dengan
kondisi saat ini, kertas, baju, tisu, bungkus makanan, popok bayi, benda
seni, berbagai jenis bahan kimia penting, dan masih banyak lagi, semua
diproduksi dari kayu. Permintaan kayu belum akan menurun sampai ada
material-material lain yang dapat menggantikan semua fungsi kayu. Believe it or not? Se-“idealis”
apapun manusia, jika masih menggunakan kayu dalam menjalani
kehidupannya maka tidak bisa menapikkan bahwa eksploitasi kayu—tentunya
dengan bijaksana—memang masih harus dilakukan.
Di
Indonesia, saat era Orde Baru banyak industri-industri kayu yang lahir
yang banyak mengekspoitasi hutan alam di luar Jawa. Sektor kehutanan
menjadi sektor favorit dikarenakan pendapatan yang menjanjikan. Kayu
bahkan sempat menempati posisi ketiga sebagai penyumbang devisa terbesar
bagi negara setelah batubara dan migas. Tidak bisa dipungkiri bahwa
pembangunan di masa Orde Baru sebagian di antaranya merupakan
sumbangan-sumbangan dari sektor kehutanan. Itulah masa lalu negeri ini
ketika kekayaan hutan masih melimpah.
Peningkatan
kapasitas industri yang tidak diimbangi dengan upaya pembangunan hutan
yang memadai ternyata berdampak tidak baik. Ketersediaan bahan baku
terus menurun. Hal ini diperparah dengan kegiatan illegal logging yang
menyebabkan kondisi hutan menjadi sangat memprihatinkan dan merugikan
negara dalam jumlahnya yang sangat besar. Kapasitas industri yang besar
tanpa bahan baku yang memadai menjadi permasalahan yang serius. Hal
inilah yang menyebabkan banyaknya perusahaan perkayuan yang akhirnya
gulung tikar.
Untuk mengerem laju
eksploitasi hutan alam, pembangunan hutan tanaman industri (HTI) pun
dilakukan guna tetap mendapatkan pasokan bahan baku kayu. Sebuah usaha
yang tidak dapat dikatakan solusi terbaik untuk pemenuhan bahan baku.
Hakikatnya hutan tanaman, pasti akan menyebabkan struktur hutan menjadi
homogen yang tidak begitu baik untuk keberlangsungan aspek ekologi di
hutan. Biodiversitas yang menurun, kemungkinan terjadinya erosi semakin
besar, rentan terhadap penyebaran hama dan penyakit. Selain itu jenis
yang digunakan pun adalah jenis cepat tumbuh (fast growing species)
yang biasanya bukan merupakan spesies asli di kawasan itu. HTI dapat
menyuplai pasokan bahan baku untuk industri yang saat ini terus
digenjot, yaitu pulp dan kertas.Nampaknya memang ada tuntutan dari
konsumen agar industri pulp dan kertas menggunakan bahan baku dari HTI.
Setidaknya adanya HTI bisa mengurangi eksploitasi hutan alam, walaupun
tidak 100% terhenti.
Kita tengok
juga keadaan hutan tanaman di Jawa. Perhutani tak lebih beruntung dalam
mengelola hutan tanaman. Berkaitan dengan penyediaan bahan baku
kayu,tegakan-tegakan yang mendominasi di hutan-hutan tanaman Perhutani
adalah tegakan yang memiliki kelas umur (KU) muda. Pengalaman pribadi
penulis saat praktek umum di salah satu RPH (Resort Pemangkuan Hutan) di
Randublatung menunjukkan bahwa sangat sedikit tegakan KU tua yang ada
di RPH tersebut. Makin mudanya tegakan yang ada, nantinya akan berefek
pada daur tebangan yang makin pendek. Entah sampai kapan hutan tanaman
di Perhutani bisa bertahan. Sedangkan untuk Jati Plus Perhutani yang
mulai ditanam tahun 2000an belum dapat dipastikan apakah bisa menjadi
salah satu solusi dalam rangka memenuhi permintaan bahan baku.
Hutan berbasis kemasyarakatan (biasa juga disebut social forestry atau
kehutanan sosial) pun belakangan mulai dilirik sebagai respon terhadap
pemecahan problem kemiskinan dan upaya pelestarian hutan. Dalam sebuah
diskusi, Pak Herry Santoso (penggiat LSM) memaparkan bahwa setelah
bergantinya Orde Baru menjadi Reformasi orientasi pengelolaan hutan yang
sebelumnya lebih condong ke hutan negara berubah menjadi hutan berbasis
kemasyarakatan. Namun kenyataannya hal ini hanyalah sebatas retorika
dikarenakan perizinan yang tidak mencapai target. Birokrasi di Indonesia
yang terdiri dari “banyak meja” menjadikan waktu untuk memperoleh izin
semakin lama. Potensi kayu yang berasal dari hutan berbasis
kemasyarakatan memang tidak bisa dianggap remeh karena bisa melampaui
potensi kayu yang dapat dihasilkan dari hutan negara yang dikelola
Perhutani. Selain itu ada dampak positif berupa peningkatan
kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Semoga
pembangunan hutan berbasis kemasyarakatan tidak lagi sebatas retorika.
Harapan-harapan
lainnya untuk bahan baku perkayuan adalah inovasi-inovasi dari
pengembangan IPTEK. Para peneliti dan akademisi di perguruan tinggi
mengembangkan berbagai cara guna meningkatkan kemampuan hutan untuk
menyediakan bahan baku kayu. Mulai dari riset aspek silvikultur hingga
pada efisiensi penggunaan bahan baku telah banyak dilakukan. Namun sudah
sejauh manakah hasil riset tersebut diimplementasikan di lapangan?
Inilah yang menjadi pertanyaan penting. Nampaknya ada mata rantai yang
terputus, para peneliti dan akademisi sibuk dengan dunianya sendiri
begitupula dengan para praktisi perkayuan. Sehingga inovasi-inovasi yang
dihasilkan menjadi sia-sia, dan permasalahan-permasalahan di lapangan
tidak dapat terselesaikan.
Tulisan
singkat ini bukan dimaksudkan untuk membuat kita pesimis terhadap
kondisi kehutanan di tanah air. Tetapi hanya ingin membuka mata kita
bahwa beginilah realita yang ada. Kita tak dapat menghindar dari
permasalahan-permasalahan yang ada, justru kita lah yang menjadi tumpuan
harapan untuk memperbaiki kondisi hutan kita. Permasalahan pemenuhan
bahan baku kayu hanyalah sedikit dari permasalahan di bidang kehutanan.
Teringat lagi perkataan Ibu Angela Sita Revuelta saat dia bercerita
tentang pendapatnya mengenai kondisi di hutan yang berada di pinggir
jalan raya Blora-Cepu yang semakin gersang, “Anak cucu kita besok yang
kena dampaknya.”
No comments:
Post a Comment