![]() |
Oleh: Hairi Cipta (Fakultas
Kehutanan UGM)
Wilayah yang kita diami memiliki potensi bencana sangat besar dan beragam. Dibutuhkan sumbangsih nyata semua elemen bangsa, terutama perguruan tinggi.
Desa itu didominasi oleh bukit-bukit yang merupakan
bagian dari Perbukitan Menoreh. Tanjakan demi tanjakan harus dilalui untuk
menuju desa yang berada di bagian utara Kabupaten Kulon Progo dan berbatasan
dengan Kabupaten Purworejo ini. Sebagian
besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani dengan komoditas andalan cengkeh,
kopi, teh, serta aren. Desa itu menawarkan keindahan panorama alam berupa
perbukitan yang mengelilinginya, air terjun, serta kebun teh. Desa tersebut
adalah Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.
Potensi yang dimiliki Desa Pagerharjo menjadi sumber
penghidupan bagi masyarakat yang hidup di atasnya. Namun desa ini tidaklah
bebas dari ancaman. Berdasarkan peta rawan longsor yang dibuat oleh Pusat Studi
Bencana Universitas Gadjah Mada (PSBA UGM), 70% kawasan Desa Samigaluh rawan
bencana longsor.
Hal tersebut menjadikan Duwi Handoko, Fauzi Abdilah,
Nita Sulistiyowati, Denni Susanto, dan Sawitri melalui organisasi Forestry
Study Club (FSC) tergerak untuk membantu mencegah terjadinya longsor di kawasan
tersebut dengan mengajukan program Hibah Bina Desa yang didanai oleh Direktorat
Pendidikan Tinggi (DIKTI). Adapun judul yang mereka angkat adalah “Kebun Bibit
Desa: Solusi Pengendalian Tanah Longsor Dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Di Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kulon Progo.” Kelima mahasiswa ini adalah
mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh FSC di
Desa Pagerharjo sejak Juni 2013 lalu. Kegiatan diawali dengan perkenalan
program kepada masyarakat diikuti dengan penyuluhan berkala dengan tema tanah longsor,
pembibitan dan pertanaman pola agroforestry (kombinasi antara tanaman pertanian
dengan tanaman kehutanan), serta pengembangan kelembagaan. FSC selanjutnya
melakukan pembangunan kebun bibit desa bersama masyarakat. FSC juga melakukan
pengambilan data di lapangan sebagai dasar penentuan tanaman yang nantinya
cocok ditanam pada lahan-lahan yang ada di Desa Pagerharjo. Selanjutnya dilakukan
kegiatan penanaman.
Teguh Kumoro, Kepala Dukuh Nglinggo Kulon, Desa
Pagerharjo menjelaskan bahwa tiap tahun memang selalu terjadi bencana tanah
longsor di Desa Pagerharjo. Longsor telah menyebabkan kerugian materiil
terutama ketika menimpa rumah warga. Walaupun belum memakan korban jiwa, warga
desa telah berembuk untuk mencari solusi atas bencana tanah longsor tersebut.
Salah satunya dengan merelokasi rumah-rumah yang berada di lahan rawan longsor
untuk ditukarkan ke lahan lain yang relatif aman dari tanah longsor.
Teguh Kumoro mendukung program yang dijalankan oleh
FSC. “Kadang-kadang masyarakat tidak serta merta mau seenaknya sendiri, tapi
karena ketidaktahuan juga bisa” ujarnya. Oleh karena itu Teguh berharap perguruan
tinggi dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait permasalahan
lingkungan. Ada juga masyarakat yang sudah mengetahui adanya risiko longsor
yang harus dihadapi ketika tanaman kehutanan ditebang. Namun karena adanya
kebutuhan mendesak, mau tidak mau penebangan harus dilakukan.
Teguh Kumoro berharap program yang dijalankan oleh
FSC tidak hanya berhenti sampai di situ melainkan terus dilanjutkan. Beliau
berharap ada regenerasi dari FSC yaang melanjutkan program tersebut sehingga
dapat terus memotivasi warga masyarakat.
Peran
Penting Kampus dalam Penanggulangan Bencana
WHO (World
Health Organization) mendefinisikan bencana sebagai kejadian yang menyebabkan
kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, merosotnya derajat kesehatan
dan pelayanan kesehatan pada skala
tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena.
Bencana dapat terjadi pada siapa saja dan kapan
saja. Sehingga penanggulangan bencana harus menjadi prioritas bersama dari
berbagai pihak. Termasuk juga oleh perguruan tinggi. Apa yang telah dilakukan
FSC adalah salah satu contoh nyata peran perguruan tinggi dalam penanggulangan
bencana.
Perguruan tinggi harus bisa mengambil peran dalam
penanggulangan bencana yang dikaitkan dengan Tri Dharma Pendidikan. Melalui
pendidikan, Kepala PSBA UGM Dr Djati Mardiatno mengatakan bahwa perguruan
tinggi berperan dalam pendidikan bergelar maupun pelatihan-pelatihan. Adapun
melalui penelitian, peran perguruan tinggi adalah merumuskan konsep, tata cara
penanggulangan bencana, serta naskah akademik untuk membuat peraturan terkait
penanggulangan bencana. Mahasiswa dari berbagai jenjang pun dilibatkan dalam
penelitian yang terkait penanggulangan bencana.
Djati menambahkan pengabdian masyarakat contohnya
dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). “Terutama KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang
berhubungan dengan tema kebencanaan. PSBA sudah beberapa kali memfasilitasi dan
mendampingi mahasiswa peserta KKN sebelum mahasiswa terjun ke lapangan,”
terangnya.
Bahkan kini, lanjut Djati, ada Forum Perguruan
Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FRT-PRB) yang sudah diakomodasi oleh
BNPB. Hal ini dilakukan adalah agar semua perguruan tinggi memberikan perhatian
pada bencana salah satunya dengan mendirikan pusat studi bencana.
Adapun peran mahasiswa dalam penanggulangan bencana.
Duwi Handoko mengatakan bahwa peran mahasiswa adalah meneliti daerah-daerah
rawan yang bencana, menemukan solusi, aplikasi solusi di lapangan, dan juga
pemberdayaan masyarakat.
Di luar negeri pun, mahasiswa juga terlibat langsung
dalam penanggulangan bencana. Saat terjadi
gempa besar di daerah Tohoku Jepang tahun 2011 lalu, Ryota Tsuchiya, mahasiswa
Tokyo University of Agriculture and Technology mengatakan,”Dalam bencana itu,
begitu banyak mahasiswa yang terlibat menjadi relawan untuk membantu para
korban bencana.”
No comments:
Post a Comment